Di dalam kamar yang sedikit pengap, jam empat sore hari, seorang laki-laki tua yang sedang di dampingi putri bungsunya sedang berbaring lemas di atas ranjang. Nafasnya sedikit tersengal dan berat, penyakitnya sudah parah, tampak sekali jika ia sedang menghadapi sakaratul maut. Dia memiliki sembilan anak, namun naas di hari itu hanya anak sulungnya saja yang menemaninya berbaring di atas ranjang.
Sebenarnya kedelapan anaknya yang sudah berkeluarga itu tinggal tidak jauh dari rumah sang laki-laki tua. Jika mereka tidak hadir di waktu itu karena disebabkan oleh kedurhakaan atau juga kebencian sang anak kepada orang tuanya. Kedelapan anak sang laki-laki tua jarang sekali untuk menengok bapaknya hingga orang tuanya yang sedang menghadapi kematian pun tidak mereka ketahui.
Sebenarnya kedelapan anaknya yang sudah berkeluarga itu tinggal tidak jauh dari rumah sang laki-laki tua. Jika mereka tidak hadir di waktu itu karena disebabkan oleh kedurhakaan atau juga kebencian sang anak kepada orang tuanya. Kedelapan anak sang laki-laki tua jarang sekali untuk menengok bapaknya hingga orang tuanya yang sedang menghadapi kematian pun tidak mereka ketahui.
“Anakku...”
“Iya Bapak.” Jawab si Bungsu.
“Sepertinya waktuku di dunia ini akan segera berakhir. Maafkan Bapak jika selama ini Bapak tidak dapat menjadi orang tua yang baik buat kalian.”
Mendengar kata-kata itu sang Bungsu menangis.
“Anakku. Untuk terakhir kalinya Bapak berpesan. Jangan pernah punya keinginan untuk menjadi orang yang baik, tapi berusahalah untuk menjadi orang yang baik.”
Sang bungsu memegang tangan Bapaknya. Anak gadis yang masih berusia dua belas tahun itu menggigit bibir. Terbayang di depan mata jika ia akan menghadapi kesunyian yang akan ia rasakan jika Bapaknya benar-benar akan menyusul Ibunya ke alam baka.
“Anakku... Di bawah ranjang ini ada sebuah buku Diare. Bacalah jika kamu ingin membacanya.” Kata sang laki-laki tua berhenti sebentar. “Di awal buku diare itu ada sebuah tulisan.” Sang laki-laki tua mengatur nafasnya. “Jika Bapak nanti mati.” Kembali sang laki-laki tua mengatur nafas. “Tulislah... tulisan... di awal... buku diare itu... di atas nisan... Bapak!”
Tidak lama setelah wasiat itu, sang laki-laki tua meninggal. Sesuai wasiatnya, di atas nisan sang laki-laki tua itu di ukir tulisan yang ada di awal buku diarenya. Inilah tulisan di atas nisan itu.
Dulu ketika aku masih muda aku memiliki cita-cita untuk merubah dunia. Ternyata untuk merubah dunia sangat susah akhirnya cita-cita itu aku sederhanakan, aku ingin merubah negeriku. Ternyata untuk merubah negeriku sangat susah akhirnya cita-cita itu aku sederhanakan aku ingin merubah lingkunganku. Ternyata untuk merubah lingkunganku sangat susah akhirnya cita-cita itu aku sederhanakan aku ingin merubah keluargaku. Saat itulah aku sadar, untuk merubah keluargaku maka aku harus merubah diriku sendiri terlebih dahulu. Namun sayang ketika aku sadar, waktuku sudah habis, aku sudah tua dan sudah sakit-sakitan. Andaikan dulu aku merubah diriku terlebih dahulu maka aku akan dapat menjadi contoh buat keluargaku. Ketika keluargaku sudah baik maka keluargaku akan menjadi contoh lingkunganku. Ketika lingkunganku menjadi baik maka lingkunganku akan menjadi contoh buat negeriku. Ketika negeriku menjadi baik maka negeriku akan menjadi contoh untuk dunia.
Baca posting selanjutnya, Cara Merubah Diri Sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar